Assalamu’alaikum,,,siaran perdana di radio alfatah live streaming memang seru. i used to think it’s gonna be fun, and it is. Aku memprogram rubrikasi siaranku sendiri, dan yang kupilih adalah Profil Mujahidah, kenapa? karena zaman sekarang kita sudah kehilangan identitas diri, yang pada akhirnya banyak dari kita jatuh pada apa saja yang terkonsumsi setiap harinya. khususnya di Indonesia yang sekarang lagi booming boyband dan girl band. piuuuuhhh! sudah jelas sekali dari sana bahwa Indonesia sudah kehilangan jati diri melalui rakyatnya…
untuk itu, kita perlu ‘memanaskan’ lagi sejarah (terutama tarikh dan sirah nabawiyah) dengan selalu membaca dan mendiskusikannya dengan siapapun, sehingga kita bisa lebih pintar untuk menjadi diri sendiri tanpa ‘menyadur’ menjadi pribadi buruk orang lain.
Aku bersyukur pada Allah subhanahu wata’la atas segala sesuatu yang telah menimpaku, karena segala sesuatu yang kita anggap baik maupun buruk yang telah menimpa kita, sebenarnya semuanya adalah kebaikan dari Allah atas kita. hanya saja kita menyadarinya sedikit.
Dan, rasa syukur itu adalah hidupku. dan harus selalu ada dalam hidupku.
kembali ke siaran perdana, aku memilih topik perdana ini dengan mengangkat biografi mengenai ummul mukminin yang pertama, Siti Khadijah r.a., yang mana beliau adalah wanita menakjubkan yang pernah ada. berikut kutipan sebagian materinya,,,
“Sebagaimana akhwatifillah ketahui, Siti Khadijah r.a. adalah putri Khuwailid bin As’ad bin Abdul Uzza bin Qushay bin Kilab al-Qurasyiyah al-Asadiyah. Siti Khadijah dilahirkan di rumah yang mulia dan terhormat pada tahun 68 sebelum hijrah. Khadijah tumbuh dalam lingkungan keluarga yang mulia, sehingga akhirnya setelah dewasa ia menjadi wanita yang cerdas, teguh, dan berperangai luhur. Karena itulah banyak laki-laki dari kaumnya yang menaruh simpati pada khadijah. Syaikh Muhammad Husain Salamah menjelaskan bahwa nasab Siti Khadijah dari jalur ayahnya bertemu dengan nasab Rasulullah pada kakeknya yang bernama Qushay. Jadi sebenarnya Siti Khadijah itu masih satu nasab dengan Rasulullah SAW.
Akhwatifilla, Dan tentang Ayah Siti Khadijah, yaitu Khuwailid bin Asad, adalah seorang tokoh pembesar Quraisy yang terkenal hartawan dan dermawan. Khuwailid sangat mencintai anggota keluarga dan kaumnya, Khuwailid bin Asad sangat menghormati tamu dan suka memberdayakan serta membantu kaum miskin dan kaum papa. Ia termasuk sahabat Abdul Mutahalib, kakek Nabi Muhammad SAW. Ayah Siti Khadijah ini juga merupakan salah seorang delegasi Quraisy yang diutus ke Yaman untuk memberi ucapan selamat kepada rajanya yang berbangsa Arab yaitu Saif bin Dziyazin, atas keberhasilan Saif mengusir pasukan Abessinia dari negerinya. Dan Peristiwa ini terjadi dua tahun sesudah peristiwa penyeragan Mekah pada tahun Gajah.
Ibu Siti Khadijah bernama Fatimah binti Zaidah. Silsilah nasabnya berujung pada Amir bin Lu’ai. Neneknya adalah Halah Binti Abdul Manaf yang tersambung sampai Lu’ai bin Ghalib. Masing-masing silsilah ayahanda dan ibundanya sebenarnya berasal dari keturunan Quraisy keturunan yang terhormat dan mulia. Nasab Khadijah dari pihak ayahanda bertemu dengan nasab Rasulullah SAW pada kakeknya yang ke-empat, Qushai bin Kilab yang tadi saya sebutkan. Qushai bin Kilab adalah pemimpin Quraisy yang berhasil merebut kekuasaan kota Mekah dari tangan kaum Khuza’ah pada abad ke-5M yang telah menguasai kota ini selama berabad-abad lamanya. Setelah itu, Qushai menjadi pemimpin agama dan pemerintahan kota Mekah yang kemudian diteruskan oleh keturunannya. Nah kita bisa melihat kesamaan nasab yang dimiliki oleh Rasulullah SAW dengan Siti Khadijah r.a.
Menurut riwayat, kemudian Pada tahun 575 Masehi, Ibu Siti Khadijah meninggal dunia. Sepuluh tahun kemudian ayahnya, Khuwailid, juga meninggal dunia. Sepeninggal kedua orang tuanya, Khadijah dan saudara-saudaranya mewarisi kekayaannya. Nah bagi Khadijah, Kekayaan warisan menyimpan bahaya. Karena harta bisa menjadikan seseorang lebih senang tinggal di rumah dan hidup berfoya-foya. Bahaya ini sangat disadari Khadijah. Ia pun memutuskan untuk tidak menjadikan dirinya pengangguran. Karenanya, Khadijah mengambil alih bisnis keluarga.
Pada mulanya, ibunda Siti Khadijah menikah dengan Abu Halah bin Zurarah at-Tamimi. Pernikahan itu membuahkan dua orang anak yang bernama Halah dan Hindun. Tak lama kemudian suamia\nya, Halah bin Zurarah at-Tamimi, meninggal dunia. dengan meninggalkan kekayaan yang banyak, juga jaringan perniagaan yang luas dan berkembang. Lalu Siti Khadijah menikah lagi untuk yang kedua dengan Atiq bin ‘A’id bin Abdullah al-Makhzumi. Setelah pernikahan itu berjalan beberapa waktu, akhirnya suami keduanya pun meninggal dunia, yang juga meninggalkan harta dan perniagaan. Dalam beberapa riwayat lain yang saya baca siti khadijah r.a. menjadi janda bukan karena suaminya meninggal dunia, namun karena bercerai. Wallahu’alam bisshawab.
pada saat itu Siti Khadijah menjadi wanita terkaya di kalangan bangsa Quraisy. Karenanya, banyak pemuka dan bangsawan bangsa Quraisy yang melamarnya, mereka ingin menjadikan dirinya sebagai istri. Namun, Siti Khadijah menolak lamaran mereka dengan alasan bahwa perhatian Khadijah saat itu sedang tertuju hanya untuk mendidik anak-anaknya. Juga dimungkinkan karena, Khadijah merupakan saudagar kaya raya dan disegani sehingga ia sangat sibuk mengurus perniagaan.
Subhanallah akhwati fillah, bagaimana kemuliaan siti khadijah sudah terlihat dari prolog di atas. Zaman sekarang, jarang sekali kita semua melihat, mendapati perempuan mulia dermawan serta hartawan yang menjaga diri sebaik Ibunda siti khadijah…………..
Para sejawatnya mengakui keberhasilan Siti Khadijah, ketika itu mereka memanggilnya “Ratu Quraisy” dan “Ratu Mekkah”. Ia juga disebut sebagai at-Thahirah, yaitu “yang bersih dan suci”. Subhanallah sekali akhwatifillah…Nama at-Thahirah itu diberikan oleh sesama bangsa Arab yang juga terkenal dengan kesombongan, keangkuhan, dan kebanggaannya sebagai laki-laki. Karenanya perilaku Khadijah benar-benar patut diteladani hingga ia menjadi terkenal di kalangan mereka. Bisa kita lihat ya ukhti, pada zaman itu orang-orang saling berbangga dengan kekayaan dan kedudukan mereka, namu ibunda siti Khadijah malah mendapatkan title yang hebat dari orang-orang seperti mereka. Bisa dibayangkan bagaimana keunggulan akhlak beliau. Oleh karena itu akhwati fillah, tidak salah jika dalam ayat disebutkan bahwa wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan wanita yang buruk adalah untuk laki-laki yang buruk. Allah swt telah memasangkan Nabi Muhammad salallahu alaihi wasalam yang berakhlak mulia dengan wanita yang sepadan.
Pertama kali dalam sejarah bangsa Arab, seorang wanita diberi panggilan Ratu Mekkah dan juga dijuluki at-Thahirah. Orang-orang memanggil Khadijah dengan Ratu Mekkah karena kekayaannya dan menyebut Khadijah dengan at-Thahirah karena reputasinya yang tanpa cacat.wallahu’alam bisshawab….”

